Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Tuesday, 31 March 2015

Wednesday, 25 March 2015

Friday, 20 March 2015

(Catatan Taujih) Mentor Kece Wanna Be

      No comments   

Assalamu'alaikum have a good day everyone!! Anyeong haseyo.... :)

Alhamdulillah beberapa minggu yang lalu kami termasuk dalam ketegori orang-orang yang beruntung bersama beberapa orang lainnya. Kenapa? Silahkan tanya Galileo XD

Ini adalah rangkuman taujih istimewa dari ustadz dalam pertemuan mentor beberapa minggu lalu. Meski yang datang cuma sedikit engga apa-apa. Aku berasa lagi ikut liqo bareng ustadz ahahha biasa bareng ustadzah kan ya. Tentu yang ini sensasinya beda! Semangat yang ditularin juga beda!

Thursday, 19 March 2015

Label 'Nikah'

      No comments   
Okeh, tulisan ini terbit ketika lagi bilas cucian yang seabrek itu. Mestinya kalo lagi bilas cucian, otak tuh fokus sama kekuatan tangan untuk peres baju-baju dan celana yang gede-gede. Maklum kami punya ukuran yang besar kecuali ayah, so kebayang dong segede apa baju aku dan ibu yang mesti aku bilas. Setelah Usup dan Uma pergi merantau ke tanah Jawa cucianku berkurang, meski mereka ukurannya engga gede haghagahag
Balik ke topik. Mulai hari ini aku nambah satu label di blog dengan judul 'Nikah'. Well, setelah sebelumnya aku membuat label 'Mentoring' untuk mengarsipkan kegiatan mentoring yang kali aja bermanfaat buat para mentor dan mentee. Sebelumnya ada label 'Drama Korea'.

Kenapa sih musti ada label 'Nikah'?Berikut alasan ngeles nya XD

1. Sebagai salah satu usaha biar segera naik pelaminan. 
Xixiixii boleh ketawa kok, aku emang lucu (personal branding.com). Setelah melalui berbagai dauroh pranikah dan beberapa pertemuan yang ngomongin nikah, mulai dari nongkrong iseng sampe ke liqoan, maka kuputuskan bahwa salah satu usaha buat mendapatkan jodoh itu ya dengan ngasih label 'Nikah' di blog. 

Yaaa kalo yang ga kenal paling tau nya aku udah nikah. Nah begitu dia tahu aku nya belum nikah, ya otomatis didoain. "Semoga disegerakan ya, Mbak Azizah". Wiwww siapa yang ga mau didoain yang baik-baik. Ups tunggu, apa ini termasuk kategori narsis? Sudahlah.

Suka aja ngasih jawaban nyeleneh sama MR misalnya kalo kami dapat jarkoman buat ikut dauroh pranikah, "Yah, dauroh lagi. Kami maunya praktek, Kak" sambil ngelirik para single lady lain. Trus MR nya cuma bisa ngerapetin bibir dan ngelus dada, "Nuruuul, Nurul....". Usaha mbaaak, usahaaaa XD

2. Mengikuti jejak para blogger
Setelah ikutan komunitas Emak2 Blogger yang diinfoin Kak Ina di facebook, aku mulai gabung di grup para emak itu. Awalnya sih gengsi, secaraaaa masih single beibeh gini. APalagi para emak biasanya suka curcol, kalo engga soal anak, ya resep masakan.

Eeeeh sekalinya begitu kenal and stalking beberapa blog mereka, sumpah, ini para emak keren yang bakalan nyiptain sejarah dan warisan berharga buat keturunan mereka. Emak-emak yang menginspirasi di bidang mereka masing-masing. Dari emak-emak yang aku ikutin n suka baca blognya, rata-rata mereka punya label nikah dan keluarga di blognya. 

Well, aku nyadar aja sih. Ga selamanya akan berada di dunia yang bikin aku kadang jadi setengah ikhwan, setengah akhwat. Musti mulai mengakrabkan diri dengan hal-hal cewek hewww

3. Mulai dari sekarang
Entah itu kapan terjadinya, yaa mudah-mudahan engga mati dalam keadaan meng-gadis (lawan dari membujang). Engga ngarep juga begitu. Nah, karena itulah, cerita tentang nikah itu jangan sampe aku mulainya malah setelah nikah. Yaa dari sekarang dunk. Walo pun bukan tentang aku, ya label ini bisa tentang pernikahan orang lain yang mudah-mudahan bisa jadi pelajaran.

Kadang suka nongkrong ga jelas sama emak-emak, eh denger tentang kehidupan rumah tangga mereka. Wuuu bisa banget lah dijadiin bahan untuk ngisi blog ini. Inget ya, semua untuk diambil hikmahnya. Kalo cuma mau ngegosip duuuuuh jangan sampe deh

4. Buat nambah pengunjung blog
Hahahaha ini nih modus yang sebenarnya. Udah ah ga usah diperpanjang lagi

Wednesday, 18 March 2015

Sunday, 15 March 2015

Monday, 9 March 2015

Tuesday, 3 March 2015

KKN 3 : Biaya Hidup dan Anggaran Kegiatan

      No comments   
kunjungan dari dosen pembimbing

Yups, anyeong... Kembali lagi dalam catatan kkn. Ada banyak hal yang pengen aku ceritakan dan tulis sebagai referensi bagi mahasiswa yang akan menjalani kegiatan itu berikutnya. Setelah melampirkan laporan kegiatan di tulisan ini ini dan menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan di awal, seperti hal-hal yang harus dikomunikasikan dengan kepala desa maka di catatan berikut ini aku akan berbagi mengenai hal yang paling penting selama kkn, yaitu mengenai biaya hidup dan anggaran kegiatan. Check it out!!!


Nah, buat mahasiswa mendengar semester ini adalah kkn dengan bobot 4 sks (eh bener ga ya, lupa loh), selain mikir mau ngapain selama kkn, juga harus mikirin berapa biaya yang harus dikeluarkan. Hiyyy... Di kampus aku biaya kkn yang dua bulan itu hampir dua juta rupiah. Itu cuma biaya kkn, nah soal biaya hidup dan kegiatan juga mesti disediakan sama mahasiswa. Kali ini aku akan bagikan bagaimana kami membagi biaya hidup dan kegiatan selama dua bulan.

Di kelompokkku jumlah kami cukup banyak sekitar 14-15 orang. Dalam diskusi, kami mendiskusi hal berikut :

1. Biaya hidup

2. Anggaran untuk kegiatan

3. Kegiatan yang akan dilaksanakan

4. Peraturan dalam posko

5. Siapa yang bisa menginap full dan tidak, siapa yang hanya bisa hadir di akhir minggu

6. Piket membersihkan posko

7. Denda apabila tidak hadir di posko dalam sehari

8. Denda apabila tidak hadir saat kegiatan berlangsung
9. Peralatan posko dan yang diperlukan untuk kegiatan

     BIAYA HIDUP DAN KEGIATAN

kami sedang membuat hiasan untuk TK dan jadwal sholat untuk mesjid

Mari bahas secara perlahan. Sebelum membahas dana, masing-masing orang harus mengutarakan kemampuan ekonominya agar bisa menyesuaikan. Satu sama lain harus menghargai juga membantu kesulitan temannya. Memang kita pengen adil, karena itu buatlah peraturan yang tegas di awal agar engga kacau saat pelaksanaan. Selama kkn, kelompok kami bukannya tanpa masalah dana. Justru ini adalah masalah utama kami.

Nah di kelompok aku untuk soal dana kami sepakat dengan iuran Rp. 50.000,-/minggu. Dana ini digunakan untuk biaya hidup dan sisanya untuk kegiatan. Bila ada kekurangan maka kami akan iuran lagi. Cara ini menurutku cukup efektif dan tidak begitu memberatkan anggota. Aturan Rp.50.000,- /minggu berlaku untuk seluruh anggota, baik yang menginap di posko maupun yang tidak atau yang hanya bisa hadir di akhir minggu.

Bila dihitung artinya dalam seminggu kami mengumpulkan dana 15 orang x Rp.50.000,- yaitu sebesar Rp. 750.000,-/minggu. Wowww sangat banyak kan. Bila dipotong dengan biaya makan kami sehari-hari lebihnya masih banyak. Lagipula yang full di posko kadang hanya 5-6 orang atau paling sedikit 3 orang.

beli lokan dekat gunung Bintan

Selain itu, kami juga memberlakukan denda bagi anggota kelompok yang engga setor muka ke posko setiap harinya sebesar Rp.20.000,-/hari. Jumlah yang cukup lumayan dan mampu mengeruk saku bila tidak datang. Setiap anggota kelompok harus punya komitmen dengan kegiatan kkn. Ini adalah bagian dari pelaksanaan kuliah jadi masing-masing harus berusaha untuk datang setiap harinya.

Memang di antara kelompok kami ada yang hanya bisa datang di akhir minggu karena pekerjaannya yang shift2-an. Alhamdulillah beliau menyanggupi. Ada yang keberatan, namun ketika kami menimbang kondisi ekonomi dan jarak rumah yang kurang memungkinkan, jumlah itu kami kurangi. Apalagi saat itu beliau dalam keadaan hamil tua.

hanya jalan-jalan karena di posko sedang ga ada kegiatan

Dengan mengadakan peraturan seperti ini maka setiap sore posko kami selalu ramai dengan anggota kelompok yang datang sepulang bekerja. Bagi aku pribadi, cukup terharu melihat mereka berusaha untuk hadir dan absen ke posko sejauh apapun. Ada yang tinggal di Berakit, setiap sore mereka melalui jalan Pulau Pucung untuk bisa sampai ke Bintan Buyu. Hey itu bukan jarak yang dekat. Ada juga yang bolak balik ke Tanjungpinang karena mengajar.

Denda ini berlaku untuk alasan apapun, apakah itu urusan keluarga, kegiatan di Tanjungpinang, sakit dan lainnya. Karena itu seingatku hampir seluruh anggota pernah membayar denda ini. Hasilnya? Woowww dana kami terkumpul sangat banyak!!! Ketika membuat kegiatan kami tak lagi mengeluarkan biaya tambahan, bahkan di akhir kkn kami mengadakan perpisahan kelompok dengan makan seafood di Madong (well, seingatku kami menghabiskan hampir 1 juta rupiah untuk makan di sana).
slurrrpppp!!!

Hitung saja berapa dana yang kami kumpulkan. Jika Rp.650.000,-/minggu maka dalam hitungan kasarnya kami telah mengumpulkan dana Rp. 4.550.000,- dalam 7 minggu. Itu belum ditambah dengan dana yang kami dapatkan dari pembayaran denda anggota kelompok yang juga cukup banyak. Ada satu orang yang hanya bisa hadir di hari Minggu. Maka dalam seminggu ia setor Rp. 140.000,- pada bendahara kelompok. Karena itulah kami tidak membutuhkan dana tambahan dalam kegiatan.

Dengan jumlah dana yang terbatas kami harus putar otak kegiatan apa yang harus kami lakukan. Awalnya mencoba untuk memasukkan proposal ke Pemkab Bintan. tapi kupikir tanpa koneksi, hal itu cukup mustahil. Berdasarkan pengalaman, proposal kegiatan BEM memang pernah tembus tapi butuh waktu beberapa bulan. Untuk detail kegiatannya tulisan berikutnya menyusul :)

Oh ya tulisan ini hanya sebagai referensi, silahkan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Semoga rezekinya dimudahkan ya kawan!

Monday, 2 March 2015

KKN 2 : Komunikasi dengan Kepala Desa

      No comments   
Ini adalah lanjutan dari postingan Laporan Kegiatan KKN di mana aku menyediakan lampiran laporan kegiatan kuliah kerja nyata. Berharap laporan itu bisa digunakan dan bermanfaat serta sebagai referensi bagi adik-adik yang akan melaksanakan kegiatan kkn. Di lapangan kadang banyak yang kebingungan apa yang harus mereka lakukan setiba di lokasi.

Well, let me share you another story of my experience.