Unordered List

Blog Archive

Sample Text

Setiap kali aku malas baca Al Quran dan buku - buku, aku selalu ingat bahwa anak - anakku kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang perempuan cerdas lagi sholehah

Followers

Popular Posts

Search

Type your search keyword, and press enter

Ordered List

Contact Us

Name

Email *

Message *

Wednesday, 25 June 2014

You'll Never Walk Alone : Menyehatkan Rasa

      No comments   
Pernah merasa bekerja sendirian dalam jamaah ini? Tenang, yang saya temukan tidak hanya satu atau dua orang, tapi lebih dari itu termasuk saya sendiri dulunya. Artinya kamu ga sendirian. Lalu, apakah ini perasaan yang benar? Pantaskah kita merasa seperti itu?

Di awal kepengurusan kita merasa begitu bersemangat uuntuk menjalankan roda organisasi agar departemen yang menaungi lebih baik dari kemarin. Ada keinginan besar untuk mencapai target yang kita buat. Ada hasrat besar untuk menjadikan departemen atau organisasi ini menjadi sesuatu yang bersinar. Ada sebuah mimpi dan cita - cita tinggi yang ingin kita wujudkan. Bukankah begitu?

Namun apa daya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada aral, hambatan dan rintangan yang kerap kali muncul setiap saat. Sesuatu yang membuat kita menjadi tidak semangat, membuat kita marah, kecewa bahkan menitikkan air mata karenanya. Hey saya ga lagi nge lebay tapi inilah yang saya saksikan selama beberapa tahun terakhir bahkan hingga saat ini. Menyaksikan kumpulan orang - orang yang merasakan apa yang direncanakan ternyata tak sesuai dengan realisasinya. Ah, kadang perasaan itu bikin kita mau meledak ledak. Tak heran tak sedikit yang menangis di forum saat kekecewaan itu memuncak.

Tapi, tahukah kawan - kawan we never walk alone.

Saya pikir perasaan - perasaan merasa sendiri ini harus dihancurkan sesegera mungkin sebelum ia berhasil menghancurkan diri kita sendiri. Eitss jangan salah, di antara kita ada orang - orang yang menjadi saksi kehancuran itu. Di saat kekecewaan memuncak karena cenderung merasa berjuang sendiri lalu ditambah lagi dengan 'merasa' tak ada uluran tangan dari saudara yang lain, maka MUNDUR menjadi keputusan yang akut.

Oke sebelum perasaan itu menghancurkan dan membawa kita meninggalkan jamaah kita mari berpikir sejenak.

Sendiri itu hanya PERASAAN. Hanya sebuah rasa yang belum dipastikan kebenaran. Selama ini mungkin kita MERASA sendiri. Oh come on itu hanya rasa. Rasa, sesuatu yang memiliki arti yang berbeda untuk setiap orang. Hancurkan dan bangun sebuah akal sehat. Jawab pertanyaan - pertanyaan yang menyehatkan rasa.

Benarkah saya berjuang sendiri? Benarkah hanya saya yang hari ini berjuang di organisasi ini? Benarkah hanya saya yang memikirkan nasib organisasi ini? Benarkah hanya saya yang bertungkus lumus mengerjakan segala sesuatunya untuk keperluan kegiatan esok hari? Benarkah hanya saya yang berinfak paling banyak? Benarkah hanya saya yang ke sana kemari membangun jaringan demi organisasi ini? Benarkah hanya saya yang..........

Perjuangan memang butuh teman seperti Rasulullah SAW yang memiliki Abu Bakar ra. di sampingnya. Seperti Mush'ab bin Umair yang dipersaudarakan dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Seperti Harun yang setia mendampingi Musa menghadapi Fir'aun. 

Tapi teman perjuangan tak harus selalu terlihat. Ia tak harus selalu berada di samping kita. Saat kita merasa sendiri dalam perjuangan ini, segeralah menyadari bahwa perjuangan kita belum ada apa - apanya. Apa yang kita lakukan hanya sesuatu yang kecil yang akan membuat kita malu untuk mengeluh dan berkata 'saya berjuang sendiri'.

Pikirkanlah bahwa di belahan bumi lainnya ada orang - orang yang juga sedang melakukan hal yang sama. Melakukan sesuatu dan terus bergerak untuk mewujudkan kemenangan Islam itu. Bukan hanya kita! Tantangan yang mereka hadapi lebih besar, lebih menakutkan. Bentrok yang mereka hadapi bukan hanya bentrokan ideologi tapi juga bentrokan fisik. SUdahkah tubuh kita terluka? Kita terlalu banci hanya karena hati kita yang terluka sedikit.

Berhentilah bersikap seolah - olah kita berjuang dan bekerja dalam dakwah ini sendirian. Buka cakrawala berpikir, bacalah kisah para pendahulu, bacalah kisah - kisah para pejuang niscaya engkau akan menitikkan air mata karenanya. Lapangkan dadamu menerima kondisi serba keterbatasan. Kondisi saudaramu yang mungkin hari ini masih terlalu dini untuk ikut berjuang bersamamu, kondisi mereka yang mungkin sedang berada di ambang kebingungan menentukan prioritas hidupnya. Kondisi mereka yang belum memahami hakikat dakwah yang telah kau pahami duluan.

Mungkin keyakinan kita masih belum kuat bahwa Allah sebenarnya telah menyediakan orang - orang yang siap untuk diajak bersama - sama. Mungkin kita yang kurang bersabar menemukan orang - orang tersebut.

Terkadang ketika merasa sendiri dalam perjuangan itu, berhati - hatilah, mungkin ada sebersit kesombongan dalam kalbu kita. Mungkin itu adalah bisikan para pendusta yang mengatakan bahwa 'saya sendiri'.

Jika saja saat itu Mursi merasa ia berjuang sendiri, telah lama ia menjual Mesir pada orang asing. Jika Erdogan merasa sendiri sudah lama ia menjadikan Turki teladan dalam dalam gerakan sekuler. Jika saat itu Rasulullah SAW merasa sendiri dalam perjuangannya setelah Abu Thalib dan istri tercinta dipanggil Allah, niscaya hari ini kita tak pernah mendengar Islam menjadi sebuah peradaban yang tinggi. Jika saja.... ah sudahlah

Tahu kenapa mereka seperti itu? Karena mereka punya Allah. Mereka meyakini dengan sepenuh jiwa dan raga bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Mereka paham benar bahwa Allah tak akan pernah membuat para hambaNya kecewa.

Semoga bermanfaat!

Sunday, 15 June 2014

2008 - 2014

      1 comment   
Banyak yang bilang saya menyia - nyiakan usia perkuliahan. Menggantinya dengan sesuatu yang tidak penting dan tak bermanfaat.

Ah siapa bilang? Belakangan saya mencoba menghitung apa yang sudah saya lalui dan kenapa hidup saya jadi seperti ini. Hahaha bukan mau bilang hidup saya berantakan dan memalukan karena kuliah yang belum selesai.

Menyelesaikan kuliah memang prioritas utama tapi ketika saya menjalani dua tahun ini, keutamaan itu menjadi bergeser. Menurut saya keutamaan tersebut adalah sesuatu yang umum.

Hehehe bukan bermaksud membela diri, tapi pernah dalam suatu waktu saya memang berpikir dan berniat untuk menunda kuliah selama satu tahun. Siapa sangka Allah mengaturnya sedemikian rupa.

Okeh kali ini saya mengajak teman untuk melihat apa yang saya lalui. Ga mau juga ga apa apa heheje.

Tahun 2008 awal hidup perkuliahan saya. Mengenal kampus dan organisasi serta orang orang di dalamnya. ..

Tahun 2009 pertama kalinya saya ditawari untuk membina anak sekolah di smansa. Ini lonjakan terbesar karena di sinilah saya belajar menjadi teladan, lebih berhati hati dan mulai belajar tentang hal hal prinsip.

Tahun 2010 begitu saya mengikuti DM2 perubahan besar itu dipaksakan terjadi. Saya mulai dipaksa membaca buku aneh dan dipaksa belajar menulis artikel, terlibat dalam kegiatan dan lain lain. Dari sini saya mulai belajar membangun jaringan.

Tahun 2011 amanah besar itu datang. Menjadi ketua BEM yang membuat saya lebih cengeng sekaligus kuat di sisi lain. Mencoba berpegang pada senior sambil belajar memimpin meski kesuksesan itu cuma mimpi. Di tahun ini saya mengenal mana musuh mana teman yang keduanya tak ada yang abadi. Mana mereka yang setia hingga akhir mana yang hanya pandai berbicara.

Tahun 2011 hingga 2012 bagi saya adalah tahun membuka diri pada berbagai jenis orang. Kesempatan belajar untuk mempelajari kondisi yang tak sesuai dengan buku. Ini juga tahun jalan jalan, tahun yang memberi saya peluang berada di daerah lain bersama mereka yang belum tersentuh tarbiyah.

Tahun 2013 di mana seharusnya saya lulus, saya menundanya. Saya putuskan untuk masuk dunia kerja dan belajar pada orang orang yang hanya berpikir tentang uang. Sholat? Tak ada dalam kamus. Hanya ada uang, kerja, wanita dan minuman keras.

Tahun 2013 hingga 2014 memberi saya warna baru. Politik. Mungkin belum seluruhnya. Tapi saya belajar strategi, memahami karakter qiyadah dan para kader tarbiyah. Belajar menjadi lebih berani. Jaringan yang saya bangun mulai meluas meski hanya tahap mengenal. Di tahun ini pula saya mulai memahami tentang kalimat "Jamaah ini adalah sekumpulan manusia, bukan malaikat".

Sekarang dengan berbagai hal yang telah dilewati skripsi adalah bagian yang belum rampung. Tak mengapa, saya sama sekali tidak menyesal menundanya. Apa yang harus disesalkan ketika Allah telah berikan begitu banyak nikmatNya.

Tahun ini semoga Allah mudahkan, saya juga butuh doa. Bukan pertanyaan “skripsinya gimana?”

Insya Allah

Macet

      No comments   

Di perjalanan menuju rumah seorang teman . Woew di simpang batu 6 antrian lampu merahnya panjang sekalee. Karena jam pulang kantor kali ya. Dua kali lampu merah baru bisa jalan.

Kuputusin ngambil jalan lewat kijang lama yang tembus ke Tanjung Unggat. Biasanya sih lebih cepat dan lancar tanpa harus berebut jalan sama pengendara lain.

Aku ambil sebelah kanan untuk antri lampu merah. Wihhh panas nya pake banget. Muka sebelah kanan kebakar. Mana yang sebelah kiri masih perih bekas cakaran dahsyat Kalisa, dua garis dan kali ini lebih dalam. Berbekas. Berasa kayak Kenshin Himura *lebay

Nah pas lagi nutupin pipi noleh deh ke kiri sambil liatin papan iklan yang gede gede itu.

Sambil pasang muka cuek sedunia merhatiin iklan satu persatu. Mungkin bapak bapak yang ada di mobil sebelah kiri di jalur lurus jadi salting. Dia pikir aku liatin dia kali ya. Ini yang geer siapa sih -_-

Beberapa detik kemudian, ciiit. Berhentilah seorang lelaki muda dengan motor agak gede. Hahahaha ini orang berhentinya pas banget di samping sampe aku bisa ngitung jumlah jenggotnya. Oalaaah!!! Reflek tangan yang tadinya di pipi langsung pindah ke stang dan noleh ke kanan. Eeeeh di sebelah juga ada yang sama, pake jenggot juga. Huahaha pengen ngakak tapi mesti nyadar karena lampu udah hijau

Pulangnya langsung bikin status di fb:
Bersabarlah dalam kemacetan, siapa tahu nemu jodoh di sana *modusss

*Cerita sebenar yang lebih baik diabaikan

Hidup Bahagia Tanpa Biaya

      1 comment   
Beberapa hari yang lalu di salah satu tv swasta ada promosi selimut dan bantal yang berguna untuk membuat tidur lebih nyaman. Kelebihan lainnya alat alat ini akan meningkatkan hormon (lupa namanya, mungkin endokrin) yang mampu membuat pemakainya lebih bahagia.

Alat alat seperti ini sebenarnya akan menjadi barang yang tidak laku jika kita mau menerapkan apa yang Rasulullah ajarkan. Bukan menggurui hanya menyampaikan sedikit pendapat.

Tidur yang nyaman sudah Rasul ajarkan. Pertama sebaiknya diawali dengan berwudhu terlebih dahulu. Banyak yang nanya, kan bukan mau sholat. Lagian ntar juga batal.

Nah wudhu itu kan bukan cuma buat sholat. Substansi dari wudhu itu membersih dan mensucikan diri. Bikin seger dan jiwa lebih tenang. Kalo pun nanti batal ketika tidur, toh kita tidur dalam keadaan mensucikan diri.

Trus setelah wudhu sempatkan untuk sholat witir. Trus baru deh tidur. Eits jangan lupa baca doa dulu. Usahakan baca ayat kursi dan 3 surah pendek terakhir dalam Al Quran kemudian doa sebelum tidur.

Soal posisi Rasul juga ajarin. Dengan miring ke kanan. Kaki kanan berada di bawah kaki kiri. Insya Allah ga bakalan mimpi buruk dan tidurnya nyenyak.

Soal hormon bahagia dan sebagainya, kita punya obat murah meriah yang udah dipake selama 14 abad ini. Nama obatnya Al Quran.

Nah biar hidup lebih bahagia, sempetin deh baca Al Quran minimal satu lembar dalam sehari. Yang udah biasa 1 juz dalam sehari lebih bagus, mudah mudahan nular ke yang lain.

Gimana? Cara cara ini ga perlu mengeluarkan biaya besar kan? Bahkan hampir ga ada biaya sama sekali.

Selanjutnya tidur nyenyak, hati senang, keluarga juga bahagia melihat wajah cerah sepanjang hari. Oh ya cara di atas dijamin sehat insya Allah. Selamat memcoba


*Mohon koreksi jika ada kesalahan

Sunday, 8 June 2014

Sungguh Kami Akan Belajar Sabar Kepadamu

      1 comment   
Innalillahi wa inna ilahi rojiuun

Dua hari terakhir kami kembali mendengar kabar kepergian orang - orang yang disayangi keluarganya. Dua hari yang lalu kudengar anak perempuan Aini yang belum genap berusia setahun meninggal dunia. Sedih pastinya. Pasangan muda ini harus rela ditinggal buah hatinya, Nadifa karena sakit, begitu yang kubaca di facebook. Semoga Allah berikan kesabaran bagi keduanya dan hubungannya senantiasa langgeng. Tak seperti yang selalu kutonton dalam drama mau pun film yang menggambarkan renggangnya hubungan pasangan yang kehilangan anaknya di masa muda. 

Berita kedua kami terima semalam sore. Kali ini dari keluarga Adi Susanto yang juga kader KAMMI, mahasiswa UMRAH Fakultas Teknik. Anak yang sering kali kubilang agak mirip Hatta dalam penampilan dan gayanya ini kehilangan abang dan keponakannya karena kecelakaan di Busung sore itu. 

Satu keluarga, seperti yang kubaca di BATAM TODAY sedang dalam perjalanan ke Tanjungpinang. Suami dan istri berserta ketiga putri mereka yang masing - masing berusia 6 tahun, 2,5 tahun dan 3 bulan. Dalam kecelakaan itu suami (Ishar Yanto) dan anaknya yang berusia 2,5 tahun meninggal dunia. Sementara istri dan dua anak yang lain saat aku menulis ini sedang dalam kondisi kritis dan sekarang berada di RS Awal Bros Batam.Semoga Allah jadikan matinya khusnul khotimah dan terhitung syahid di jalan-Nya.

Kematian adalah sesuatu yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz, kita sebagai manusia hanya perlu ridho akan ketentuan yang telah Allah gariskan. Harap kami seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan mendapat kesabaran dan ketabahan. Dan yang pasti akan selalu ada hikmah dibalik musibah yang menimpa manusia. 

Allah sudah perhitungkan bahwa mereka sanggup menunaikan ujian kali ini. Ujian yang belum tentu aku bisa melewatinya dengan baik. Sungguh kelak kami akan belajar sabar dari keluarga - keluarga ini. 

Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fu'anhum

Wednesday, 4 June 2014

Jasad Berdarah Seorang Laki - laki

      No comments   
Hari Minggu saat aku akan ke pelabuhan Penyengat, aku melewati Jalan Kamboja. Jalan ini kukenal sebagai jalan yang bebas macet dan bisa kukebut hingga 50-60 km/jam karena ini di dalam kota. Beda kalo harus lewat Batu 5 bawah yang harus lebih sabar. Namun karena hari itu hujan turun cukup deras 40 km/jam sudah kurasa cukup meski dalam hati berdebar takut ketinggalan kapal menuju Pangkil. 

Sebelum tiba di persimpangan Kamboja menuju Bakar Batu, aku melihat beberapa orang berkerumun. Kerumunan itu menyebar tak hanya di satu titik. Kupikir mereka berteduh karena ketika itu bagi yang tak memiliki mantel, menerobos hujan bukanlah pilihan yang bagus. Aku sendiri harus menggigil kedinginan karena mantel yang tak cukup panjang sehingga kaus kakiku benar - benar basah. 

Betapa terkejutnya aku ketika laju motor kupelankan dan menoleh ke arah kanan di mana orang - orang sedang berkerumun. Di depan salah satu ruko yang tertutup itu ada sesosok mayat laki - laki yang tergeletak begitu saja. Bagian wajah dari dagu hingga lehernya berdarah. 

Sejauh yang kulihat di waktu yang sangat singkat itu, laki - laki tersebut tidak mengalami luka di bagian lainnya. Kurang yakin juga karena aku melihatnya dari jauh. Kulihat tak ada seorang pun yang berani mendekati mayat tersebut. Aku pun tak begitu yakin dia masih hidup atau tidak. 

Perkiraanku awalnya dia jatuh dari lantai atas, tapi tak mungkin karena jika demikian tenta bagian kepalanya yang berdarah. Mungkin saja dia adalah korban kecelakaan lalu lintas, tapi aku tak melihat kendaraan yang hancur, jika ia adalah pejalan kaki aku tak melihat ceceran darah lainnya. 

Di perjalanan aku memikirkan bahwa orang itu korban pembunuhan atau baru saja terlibat perkelahian. Bisa jadi ia sedang mabuk dan lain sebagainya. Pikiranku bermain menebak apa yang terjadi. 

Sayangnya hingga aku menulis hal ini aku belum mendapat informasi mengenai kejadian tersebut. Tak tahu juga harus bertanya pada siapa saja. 

Apa lelaki itu mati atau masih hidup hingga hari ini. Dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.